This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Harga Masih Rendah, Pengusaha Batu Bara Harap Tidak Ada Regulasi Baru

Indonesia-Pengusaha batu bara berharap pemerintah tahun ini tidak menerbitkan regulasi baru yang berpotensi menekan margin usaha, di tengah harga batu bara yang masih belum membaik.  
Bob Kamandanu, Ketua Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) sekaligus Komisaris Independen PT Samindo Resources Tbk. (MYOH) mengatakan bisnis batu bara tahun ini diperkirakan masih stagnan.
“Kami melihat harga juga masih stagnan. Kami belum melihat indikasi bahwa batu bara akan naik secara signifikan,” ujarnya ketika ditemui usai RUPS Luar Biasa Samindo Resources, Jumat (17/1/2014).
Bob mengatakan harga batu bara biasanya ada indikasi naik ketika memasuki semester II. Namun saat ini harga masih rendah, di bawah US$90 per ton. Adapun Harga Batu bara Acuan (HBA) bulan Januari 2014 sebesar US$81,9 per ton.
“Pendek kata, perlu kerja keras. Masih ada untung, tapi sangat minimum. Kami tidak mengharap ada regulasi-regulasi baru lagi yang akan menekan margin kami,” ujarnya.
Selain itu, Bob juga berharap pemerintah bisa tegas dalam menghentikan aktivitas penambang liar serta eksportir liar yang tidak atau sangat minimum membayar royaltinya.
“Saya minta kepada pemerintah segera tegas. Karena kalau tidak dijalankan, apa pun yang dilakukan pada kami-kami yang resmi melakukan bisnis secara benar, itu kami akan kecolongan juga. Mereka tetap ekspor dan tidak membantu mengangkat harga,” ujar Bob.
Meski demikian, Bob mengakui bahwa industri batu bara tahun ini relatif lebih bisa berjalan business as usual dibandingkan dengan industri mineral yang mulai awal tahun ini mengalami banyak tantangan.
Seperti diketahui, pemerintah mulai memberlakukan larangan ekspor mineral mentah mulai 12 Januari 2014. Sementara untuk industri batu bara, relatif tidak ada kebijakan baru. “Ya, kami tetap berjalan. Batu bara akan business as usual, stagnan, dan kami tetap harus melakukan efisiensi. Yang saya sayangkan, kenapa ekspor mineral harus berhenti? Sementara kita tahu bahwa saat ini sedang terjaditrade deficit,” ujar Bob.
Sementara itu, RUPS LB Samindo Resources yang digelar Jumat (17/1/2014), mengangkat Kim Young Chan (sebelumnya menjabat Direktur) sebagai Direktur Utama menggantikan Lee Chang Hoon yang mengundurkan diri.
Dengan demikian, susunan direktur lainnya adalah Priyo Pribadi Soemarno, Lee Kang Hyeob, dan Yoo Hun Jae. Sementara, susunan komisaris adalah Kim Sung Kook (Komisaris Utama), Ha Gil Yong (komisaris), dan Bob Kamandanu (Komisaris Independen).

Indomico Peroleh Suntikan Dana Rp 295,8 Miliar


Indonesia- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (IMTG) akan menambah dana pengembangan di PT Indomico Mandiri dari sebelumnya sekitar Rp 188 miliar menjadi Rp 295,8 miliar.

Harian Investor Daily, terbitan Kamis (23/1) melaporkan, Indo Tambang memperoleh dana sebesar Rp 3,16 triliun dari IPO beberapa tahun lalu.

"Perseroan akan mengalihkan sisa dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO)," kata Presiden Direktur Indo Tambangraya Megah, Pongsak Thongampai.

Pospektus perseroan menyebutkan, perusahaan akan mengalokasikan dana IPO sebesar Rp 609-656 miliar untuk menambah kapasitas dan ekspansi terminal batubara Bontang di Indomico, sebesar Rp 188-234 miliar untuk keperluan pembangkit tenaga listrik batubara di Indomico, dan sebesar Rp 188 miliar untuk keperluan pengembangan tambang operasi Indomico di Blok Timur.

Selain itu, perseroan juga mengalokasikan Rp 375-469 miliar untuk pengembangan tambang operasi Baritho, sisanya sebesar Rp 1,5-1,7 triliun untuk pembayaran utang perseroan dan anak usaha serta akuisisi tambang.

Perubahan alokasi dana IPO tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dana pengembangan tambang operasi Indomico. (nn/id).

Bea Keluar Hasil Tambang

Indonesia-Pengusaha tambang meminta kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menurunkan Bea Keluar (BK) tambang.

Ketua Asosiasi Tembaga Emas Indonesia (ATEI), Natsir Mansyur, mengatakan BK tembaga sebelumnya kurang dari 25%, kini sudah mencapai 25%. "Rusak karena BK ini ganjalan, karena aturan menteri keuangan," ujar Natsir, Sabtu (18/1), seperti dikutip dalam inilah.com.

Menurut Natsir, dengan adanya BK tersebut dapat berpotensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebab akan meningkatkan risiko kredit macet, dengan kredit macet tentunya aset perusahan akan disita, dengan demikian PHK jalan terakhir.

Natsir menambahkan, pengusaha tambang juga mengharapkan Kemenkeu membuka pintu dialog mengenai BK. Ia menjelaskan, pintu dialog tersebut untuk memberikan masukan mengenai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang BK No 1 Tahun 2014. (rr/ic)

Harga Batubara Mengalami Penguatan

Indonesia-Terseretnya pasokan minyak di pasar Eropa mengerek harga batubara. Namun, harga batubara diprediksi tidak akan mampu menguat tajam, bahkan cenderung akan tergerus lagi.

Data Bloomberg, Rabu (15/1) menunjukkan, harga batubara kontrak pengiriman Februari 2014 di Bursa ICE Eropa naik 0,73% dibanding hari sebelumnya menjadi US$ 83,20 per metrik ton (MT). Namun, jika dihitung sejak akhir tahun lalu, harga emas hitam ini sudah tergerus sebesar 3,50% ketika menyentuh level US$ 86,30 per MT.

Analis Komoditas, Ibrahim menilai, penguatan harga batubara dipengaruhi laju harga minyak mentah dunia.

"Ketika harga minyak naik, maka ikut mendorong harga batubara," ujar Ibrahim, seperti dilansirHarian Kontan, Jumat (17/1). (nn/kn).

83 IUP Will Receives Leeway in Exports Raw Mineral

Indonesia - Confirmed as many as 83 mining license (IUP) of various mineral commodities will have easy export of raw mineral ( ore ) after January 12, 2014.

Moreover, the Government has invited the IUP holders to be given guidance in the application of export of raw mineral leeway to participate in the seminar as well as an increase in value-added mineral evaluation of the progress of construction of the smelter which will be held this week in Bali.

Development Director of the Ministry of Energy and Mineral Exploitation, Dede Suhendra do not want to say much about the seminar. Ministry of Energy and Mineral Resources only invite companies who have submitted the documents  the feasibility study  (FS) development and refining of mineral processing unit ( smelters ) to be evaluated.

Dede asserted, are invited to Bali to be uncertain raw mineral exports in 2014.

"Depending on the team's decision, whether their FS-serious or carelessly, "he said as quoted by the reporter, Jakarta, Tuesday (19/11).

Meanwhile, on separate occasions, Mining analyst Simon F Sembiring said the government should distinguish between the obligations of downstream mineral contracts of work ( KK) and IUP. " IUP newly a few years to mine  so it needs more time to prepare for construction of the smelter," said Simon.